Butuh Seragam Sekolah ! Untuk Pengentasan Kesenjangan Pendidikan


JAKARTA- Seragam sekolah menjadi kewajiban bagi tiap tiap murid di Tanah Air, untuk mengenakannya selama bersekolah. Tetapi, pemerintah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat mengeluarkan diskresi atau pengecualian. Di kabupaten ini, siswa tidak mewajibkan pelajar gunakan seragam sekolah terkecuali pelajar itu berasal ekonomi yang tidak cukup mampu.
Kebijakan baru berikut dikeluarkan sejalan bersama dimulainya aktivitas belajar-mengajar pada tahun ajaran baru 2017/2018.

“Tidak boleh ada paksaan bagi pelajar SD dan SMP di Purwakarta untuk mengenakan seragam sekolah terkecuali situasi ekonomi pelajar berikut dinilai tidak cukup mampu,” kata Bupati setempat Dedi Mulyadi di Purwakarta, Selasa, sebagaimana diberitakan Antara.
Adapun kebijakan ini dikeluarkan, sebab lumayan banyak keluhan berasal dari orang tua yang tidak mampu membeli seragam, sepatu dan peralatan sekolah yang lain.

“Saya sampaikan tidak ada paksaan untuk mengenakan seragam. Boleh nanti pelajar yang ekonomi keluarganya dinilai mampu itu menopang pelajar yang situasi ekonominya tidak cukup mampu,” katanya.

Untuk menerapkan kebijakan itu, dia meminta pihak sekolah supaya jalankan indentifikasi berkenaan bersama situasi ekonomi pelajar di tiap-tiap sekolah. Gerakan Empati kepada pelajar tidak cukup mampu ia serukan untuk langsung dilakukan, untuk mengatasi persoalan sosial, terhitung kemiskinan.
Di sejumlah daerah, persoalan seragam ini mengemuka. Salah satu yang terbeber di Antara, adalah pungli atau kutipan harus untuk pembelian seragam. Sejumlah orangtua di Kota Pekanbaru mengeluhkan adanya kutipan harus untuk busana seragam sebesar Rp1 juta di sekolah dasar negeri bagi tiap tiap murid baru.

Orangtua siswa ini menyebutkan sesungguhnya keberatan bersama harga seragam yang ditetapkan di SDN 110 di daerah Purwodadi Kota Pekanbaru, sebab jauh lebih mahal ketimbang harga di pasar. Namun sebab risau terkecuali tidak membayar dapat berdampak kepada anaknya nanti, maka ia terpaksa menuruti aturan sekolah.

“Sebenarnya kami orangtua tidak setuju,tetapi mau gimana lagi demi anak sekolah,” ujarnya pasrah.
Berdasarkan data yang disatuka berasal dari para orangtua uang seragam Rp1 juta berikut untuk lima pasang pakaian, yaitu merah putih, pramuka, batik, melayu dan olah raga. Kutipan seragam sekolah itu udah terjadi lama, sebab pada tahun sebelumnya terhitung siswa baru diwajibkan membayar sekitar Rp900 ribu.

Di pasaran, harga biasanya satu pasang busana anak SD berikut di Pasar hanya Rp60.000.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Abdul Jamal waktu di konfirmasi mengaku kaget bersama adanya kebijakan uang seragam yang ditetapkan sekolah waktu awal tahun ajaran baru. Sekolah yang mewajibkan seperti ini, patut dikenai sanksi, menurutnya.
Lantas, darimana asalnya budaya berseragam sekolah?
Budaya berseragam sekolah di Tanah Air diperkenalkan oleh Jepang. Meski masa penjajahannya singkat; selama 3,5 tahun, Jepang menanamkan kebiasaan di sekolah-sekolah yang dibinanya. Di sisi lain, seragam sekolah terhitung diterapkan oleh sekolah-sekolah bernuansa agama Kristen-Katholik yang dikelola kolonial Belanda.
Pemerintah Orde Baru sesuaikan seragam ini bersama tegas. Pemerintah Presiden Soeharto memformalkan ini, melalui Surat Keputusan Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah yang berisi tentang pemakaian seragam sekolah bagi para siswa pada 17 Maret 1982. Salah satu dasar kesimpulan penetapan seragam, adalah melupakan kesenjangan sosial di sekolah, terhitung menamkan rasa persamaan. Karenanya, SK ini sesuaikan mengetahui soal model dan corak warna seragam bagi tiap tingkatan sekolah di Indonesia .
Idik Sulaeman sebagai Direktur Pembinaan Kesiswaan di Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah menjadi penggagas seragam tersebut. Alumni Pendidikan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung yang menjabat sebagai Direktur Pembinaan periode 1979-1983 tersebut, terhitung merupakan pembuat simbol OSIS dan Paskibraka.
Filosofi warna
Dasar filosofis seragam terhitung dijabarkan cocok tingkatan sekolah. Untuk mereka yang bersekolah di SD, kemeja putih bersama bawahan merah melambangkan energi dan keberanian bagi siswa untuk belajar. Di tingkatan SMP, warna biru sebagai bawahan melambangkan komunikasi dan yakin diri. Sedang warna abu pada seragam SMA ditujukan membuktikan kedewasaan dan ketenangan.

Sejak 1982, seluruh sekolah negeri, terhitung swasta kebanyakan, gunakan seragam sekolah yang sama. Namun, pada masa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dijabat Bambang Sudibyo, ada wacana menghapus seragam sekolah.
Di tahun 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 45 Tahun 2014, tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Permendikbud berikut sesuaikan tentang seragam SD hingga SMA.
Selain seragam yang ditetapkan pada 1982, dijabarkan lagi model seragam, yakni; seragam nasional, seragam sekolah, dan seragam kepramukaan. Di seragam, ada tambahkan, yaitu meletakkan bendera merah putih pada dada kiri atas kantong saku.
Mendikbud Mohammad Nuh menjelaskan, sasaran berasal dari penetapan seragam ini adalah menumbuhkan rasa nasionalisme, kebersamaan, dan juga memperkuat persaudaraan supaya mampu menumbuhkan motivasi kesatuan dan persatuan di kalangan peserta didik.
Banyak negara menetapkan seragam sekolah bagi warganya. Di Amerika Serikat terhitung banyak sekolah berseragam. Namun, di sana, seragam diterapkan di wilayah-wilayah yang biasanya miskin. Alasan menghilangkan kesenjangan dan keamanan menjadi argument utama penetapan seragam di sana, sebagaimana dituliskan Monique W. Morris pada bukunya. Pushout: The Criminalization of Black Girls in Schoolsterbitan The New Press, 2014 lalu.

Dan, terkecuali ditarik ke belakang, peristiwa mencatat bahwa seragam sekolah yang pertama kali diterapkan formal adalah di Inggris pada 1222. Uskup Canterbury mengeluarkan penetapan ini sebagaimana ditulis Greg Sandow didalam essai Vacation Thoughts — Formal Dress. tujuan awalannya sesungguhnya adalah untuk kerapihan dan menghilangkan kesenjangan.
Namun, {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} abad belakangan, seragam sekolah jadi lebih diterapkan oleh sekolah-sekolah kelas atas.
Di AS, penetapan seragam dijalankan pertama kali di Maryland dan Washington, DC pada 1987. Awalnya menurut lembaga sosial Procon.org, ini merupakan imbauan. Namun, orangtua mendukungnya. Kemudian, Presiden Bill Clinton memastikan ini didalam peraturan.
Menilik ke sejarahnya, sesungguhnya penyeragaman dijalankan untuk menghilangkan kesenjangan. Namun, terkecuali dicermati ke situasi di Tanah Air, ada hal lain yang lebih harus diseragamkan; kesempatan beroleh pendidikan.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendata, di tingkat Sekolah Dasar (SD) , berasal dari 26.401 sekolah ersensus, ada sebanyak 14.402 ruang kelas yang rusak berat, lebih-lebih terancam roboh. Jumlah ini mampu bertambah, memandang data bahwa ada 14 ribu SD di wilayah Nusantara ini. Nah, sejatinya ini yang harus diseragamkan. Gedung sekolah yang layak bersama mutu pendidiknya, menjadi keseragaman mutlak diperlukan. (Rikando Somba)

Related Posts

About The Author

Add Comment