Keutamaan Menshalatkan Jenazah, yang Harus Kamu Tahu !


Diriwayatkan dari Abu Hurairah yang mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam:
“Barangsiapa yang menghadiri jenazah, hingga jenazah itu dishalatkan , maka ia mendapat pahala satu qirath. Dan barangsiapa yang menghadiri jenazah hingga dikuburkan, maka ia mendapat dua qirath. Ada yang bertanya: “Seperti apa dua qirath itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “Seperti dua gunung yang besar.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Hukum Shalat Jenazah
Hukum shalat jenazah adalah fardhu kifayah, yaitu andaikan udah ada {beberapa|sebagian|lebih dari satu} dari kaum muslimin yang mengerjakannya, maka gugur dosa dari {beberapa|sebagian|lebih dari satu} kaum muslimin yang lainnya. Jadi bagi {beberapa|sebagian|lebih dari satu} kaum muslimin yang lain mengerjakannya adalah sunnah. Sedangkan andaikan seluruhnya tidak mengerjakan, maka mereka seluruhnya berdosa.
Syarat-syaratnya:
1. Niat
2. Menghadap kiblat
3. Menutup aurat
4. Orang yang mengerjakan didalam situasi suci
5. Menjauhi najis
6. Yang menshalatkan maupun yang dishalatkan harus beragama Islam 7. Menghadiri jenazah tersebut andaikan jenazah itu berada di didalam negerinya 8. Orang yang menshalatkan adalah orang yang mukallaf
Rukun-rukunnya:
1. Berdiri di didalam shalat jenazah itu
2. Melakukan takbir yang empat
3. Membaca surat Al Fatihah
4. Mendoakan shalawat atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam 5. Mendoakan jenazah tersebut
6. Tertib
7. Salam
Sunnah-sunnahnya:
1. Mengangkat ke-2 tangan pada tiap-tiap kali takbir
2. Membaca doa isti’adzah (ta’awwudz) sebelum saat membaca Al Fatihah 3. Mendoakan kebaikan bagi diri sendiri dan kaum muslimin
4. Tidak mengeraskan nada dikala membaca Al Fatihah
5. Berdiri sebentar sehabis takbir yang keempat sebelum saat salam 6. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri
7. Menoleh ke kanan dikala mengucapkan salam
Tata Cara Shalat Jenazah
1. Seorang imam atau seorang munfarid berdiri di segi kepala jenazah laki-laki. Adapun kecuali jenazah itu perempuan, maka berdiri di segi tengahnya (di segi pusar). Sedangkan makmum berdiri di belakang imam. Dan disunnahkan untuk menjadikannya tiga shaf.
2. Kemudian laksanakan takbiratul ihram dan sehabis itu segera membaca ta’awwudz, tanpa membaca doa istiftah. Lalu membaca basmalah dan surat Al Fatihah.
3. Kemudian bertakbir yang ke-2 dan sehabis itu mendoakan shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam sebagaimana shalawat yang dibaca di didalam tasyahhud (at tahiyat) di didalam shalat pada umumnya.
4. Kemudian bertakbir yang ketiga, lantas membaca doa kebaikan untuk si mayit bersama doa-doa yang terkandung di didalam As Sunnah. Di antaranya adalah doa:
“Allahummaghfir lihayyinaa wa mayyitinaa, wa syaahidinaa wa ghaa-ibinaa, wa shaghiirinaa wa kabiirinaa, wa dzakarinaa wa untsaanaa. Innaka ta’lamu manqalabanaa wa matswaanaa. Wa anta ‘alaa kulli syai’in qadiir. Allahummaghfir lahu warhamhu, wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ mudkhalahu. Waghsilhu bil maa-i wats tsalji wal barad. Wa naqqihi minadz dzunuubi wal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas. Wa abdilhu daaran khairan min daarihi, wa zaujan khairan min zaujihi. Wa adkhilhul jannata wa a’idz-hu min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabin naari. Wa afsih lahu fii qabrihi wa nawwir lahu fiihi. Allahumma man ahyaitahu minna fa ahyihi ‘alal Islaam, wa man tawaffaitahu minnaa fa tawaffahu ‘alal imaan.”
Artinya:
“Ya Allah ampunilah orang yang tetap hidup maupun orang yang udah mati di pada kami, orang yang hadir maupun orang yang tidak hadir di pada kami, orang yang tetap kecil maupun orang yang udah tua di pada kami, yang laki-laki maupun perempuan di pada kami. Sesungguhnya Engkau sadar daerah ulang dan daerah tinggal kami. Dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah ampunilah ia dan memberikan rahmat kepadanya, serta sejahterakanlah dan maafkanlah ia. Muliakanlah daerah kedatangannya dan luaskanlah daerah masuknya. Mandikanlah ia bersama air, salju dan embun. Bersihkanlah ia dari dosa-dosanya sebagaimana dibersihkannya kain yang putih dari kotoran. Gantilah ia bersama rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, istri yang lebih baik dari istrinya. Masukkanlah ia ke didalam Jannah dan lindungilah ia dari azab kubur dan azab Neraka. Dan ltaskanlah kubur untuknya serta terangilah ia di dalamnya. Ya Allah barangsiapa yang Engkau hidupkan di pada kami maka hidupkanlah ia di atas Islam. Dan barangsiapa yang Engkau wafatkan di pada kami maka wafatkanlah ia di atas iman.”
Bisa pula mengambil {beberapa|sebagian|lebih dari satu} dari doa di atas sesuai bersama lafazh yang disebutkan didalam nash hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Nasaa’i, dan Imam Ibnu Majah maupun yang lain:
“Allahummaghfir lahu warhamhu, wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ mudkhalahu. Waghsilhu bil maa-i wats tsalji wal barad. Wa naqqihi minadz dzunuubi wal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas. Wa abdilhu daaran khairan min daarihi, wa zaujan khairan min zaujihi. Wa adkhilhul jannata wa a’idz-hu min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabin naari.”
Artinya:
“Ya Allah ampunilah ia dan memberikan rahmat kepadanya, serta sejahterakanlah dan maafkanlah ia. Muliakanlah daerah kedatangannya dan luaskanlah daerah masuknya. Mandikanlah ia bersama air, salju dan embun. Bersihkanlah ia dari dosa-dosanya sebagaimana dibersihkannya kain yang putih dari kotoran. Gantilah ia bersama rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, istri yang lebih baik dari istrinya. Masukkanlah ia ke didalam Jannah dan lindungilah ia dari azab kubur dan azab Neraka.”
Atau sebagaimana yang terkandung di didalam riwayat Imam Abu Dawud, Imam Ibnu Majah dan Imam Al Baihaqi maupun yang lain:
“Allahummaghfir lihayyinaa wa mayyitinaa, wa syaahidinaa wa ghaa-ibinaa, wa shaghiirinaa wa kabiirinaa, wadzakarinaa wa utsaanaa. Allahumma man ahyaitahu minna fa ahyihi ‘alal Islaam, wa man tawaffaitahu minnaa fa tawaffahu ‘alal imaan. Allahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa tudhilnaa ba’dahu.”
Artinya:
“Ya Allah ampunilah orang yang tetap hidup maupun orang yang udah mati di pada kami, orang yang hadir maupun orang yang tidak hadir di pada kami, orang yang tetap kecil maupun orang yang udah tua di pada kami, yang laki-laki maupun perempuan di pada kami. Ya Allah barangsiapa yang Engkau hidupkan di pada kami maka hidupkanlah ia di atas Islam. Dan barangsiapa yang Engkau wafatkan di pada kami maka wafatkanlah ia di atas iman. Ya Allah jangan Engkau haramkan (halangi) kami dari mendapat pahala (atas musibah kematian)-nya dan jangan Engkau sesatkan kami sepeninggalnya.”
Adapun kecuali jenazah tersebut adalah seorang wanita, maka lafazh doanya bersama memakai dhamir mu’annats (kata ubah untuk wanita, yaitu dhamir HU diganti HA), menjadi:
“Allahummaghfir laha warhamha, wa ‘aafiha wa’fu ‘anha, wa akrim nuzulaha, wa wassi’ mudkhalaha. Waghsilha bil maa-i wats tsalji wal barad. Wa naqqiha minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas. Wa abdilha daaran khairan min daariha, wa zaujan khairan min zaujiha. Wa adkhilhl jannata wa a’idz-ha min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabin naari.” (Artinya sama bersama di atas).
Sedangkan andaikan jenazah tersebut adalah anak kecil, maka mengucapkan doa:
“Allahummaj’alhu dzukh-ran liwaalidaihi wa farathan wa ajran wa syafii’an mujaaban. Allahumm tsaqqil bihi mawaaziinahuma wa a’dhim bihi ujuurahuma wa alhiq-hu bi shaalihi salafil mukminin. Waj’alhu fii kifaalati Ibraahiima wa qihi birahmatika ‘adzaabal Jahiim.”
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan bagi ke-2 orang tuanya, sebagai pendahulu, tambahan pahala, dan pemberi syafaat yang mustajab (bagi ke-2 orang tuanya). Ya Allah, beratkanlah timbangan ke-2 orang tuanya bersama sebab musibah kematiannya, perbesarlah pahala bagi keduanya, susulkanlah ia kepada orang-orang shalih dari salaf (pendahulu) kaum mukminin, masukkanlah ia ke didalam asuhan Ibrahim dan peliharalah ia dari azab Neraka Jahim.”
5. Kemudian bertakbir yang keempat lantas mengucapkan doa:
“Allahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu.” (Dhamir HU terhitung diganti bersama HA andaikan jenazahnya wanita)
Artinya:
“Ya Allah jangan Engkau halangi kami dari mendapat pahala (atas musibah kematian)-nya dan jangan Engkau menguji kami sepeninggalnya.”
6. Kemudian diam berdiri sejenak lantas mengucapkan satu kali salam seraya menoleh ke arah kanan. Berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Daruquthny, Imam Al Hakim dan Imam Al Baihaqi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan:
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah menshalatkan jenazah, lantas beliau bertakbir empat kali sesudah itu laksanakan salam satu kali.”
Boleh terhitung salam dua kali ke kanan dan ke kiri berdasar kepada hadits yang dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi bersama sanad yang jayyid dari Abdullah Ibnu Mas’ud yang mengatakan:
“Tiaga cabang yang tetap dilaksanakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, tetapi ditinggalkan oleh manusia, tidak benar satunya adalah salam didalam shalat jenazah layaknya salam di didalam shalat (yang lain).”
Dan salam ini dilaksanakan bersama sirr (tidak keras).
Barangsiapa ketinggalan {beberapa|sebagian|lebih dari satu} dari shalat jenazah, maka ia mampu segera masuk bersama imam ikuti shalat imam yang tersisa. Kemudian andaikan imam laksanakan salam, maka ia selesaikan shalatnya yang terluput sesuai bersama tata langkah (urutan) yang udah disebutkan di atas. Adapun kecuali ia cemas jenazah bakal segera diangkat, maka laksanakan takbir-takbir saja secara segera (tanpa bacaan pemisah antar takbir-takbir itu) lantas laksanakan salam.
Barangsiapa terluput dari menshalatkan jenazah, tetapi jenazah itu belum dikubur, maka ia mampu menshalatkannya di atas kuburnya. Boleh pula ia menshalatkan jenazah yang udah dikubur. Caranya, ia berdiri menghadap makam dan kiblat sekaligus, sesudah itu laksanakan shalat sebagaimana shalat jenazah.
Barangsiapa ghaib (tidak hadir) di negeri daerah jenazah itu berada, namun ia sadar mengenai kematiannya, maka ia boleh menshalatkan jenazah itu secara ghaib bersama niat. Namun pendapat yang rajih bahwa shalat jenazah secara ghaib ini hanya dilaksanakan andaikan di daerah jenazah tersebut tidak ada yang menshalatkannya, layaknya andaikan ia meninggal di negeri kafir.
Janin seorang wanita yang gugur didalam situasi mati dan usianya amat udah genap empat bulan atau lebih, maka dishalatkan sebagaina shalat jenazah. Adapun andaikan kurang dari empat bulan, maka tidak dishalatkan. Berdasarkan hadits Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Para pengendara (berjalan) di belakang jenazah, yang berlangsung kaki terserah, (bisa di belakangnya, depannya, kanannya atau kirinya yang dekat dengannya). Dan anak kecil terhitung dishalatkan (kedua orang tuanya didoakan bersama maghfirah dan rahmat).”
Dibolehkan menshalatkan jenazah di masjid, berdasarkan kelakuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam (HR. Muslim). Namun menurut wejangan sunnah Nabi, hendaklah buat persiapan daerah khusus di luar masjid untuk penyelenggaraan shalat jenazah. Agar masjid tidak jadi kotor (tetap terjaga kebersihannya), dan hendaknya daerah khusus itu dekat bersama pekuburan agar lebih memudahkan masyarakat umum.
Wallahu a’lam bish-shawab. Baca Juga Cara Memandikan Jenazah !
Referensi:
1. Pengurusan Jenazah oleh Al Imam Muhyidiin Muhammad Al Barkawi & Wizaratu Asy Syu’uni Al Islamiyati Wal Auqafi Wad Da’wati Wal Irsyadi (Departemen Agama Islam, Urusan Waqaf, Dakwah dan Pengajaran) – Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia. Penerjemah: Abu Yahya, penerbit: Maktabah Al-Ghuroba’, cet. Pertama, Mei 2010.
2. Shalat Jenazah Disertai bersama Tata Cara Mengurusnya oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, penerjemah: Abu Ihsan Al-Maidani Al-Atsari, penerbit: At-Tibyan, cet. Kedua, Maret 2001.

Related Posts

About The Author

Add Comment