Penggunaan Songkok Saat Ini

Secara tradisional songkok dikaitkan dengan topi pria Muslim. Namun, di Indonesia, songkok telah menjadi kepala nasional dengan konotasi nasionalis sekuler yang dipopulerkan oleh Soekarno. Sejumlah aktivis gerakan nasionalis Indonesia pada awal abad ke-20 mengenakan peci seperti Sukarno, Muhammad Hatta, dan Agus Salim. Namun, sebagai presiden pertama Indonesia, Soekarno yang mempopulerkan peci – lebih tepatnya peci beludru hitam – sebagai topi nasional pria Indonesia, dan presiden pria Indonesia telah mengenakan peci sebagai bagian dari pakaian resmi kepresidenan mereka sejak saat itu. Penjaga istana resmi Indonesia juga mengenakan peci sebagai bagian dari seragam mereka.

Versi perempuan peci dengan punggung melengkung, dipakai oleh pasukan pengibaran bendera Indonesia (Paskibraka) atau pasukan pengibaran bendera dalam upacara hari kemerdekaan Indonesia juga memakai peci, dan bahkan ada versi peci betina dengan punggung melengkung. Orang-orang Betawi memakai Songkok karena hiasan kepala tradisional mereka biasanya berwarna merah gelap.

Di Malaysia, pakaian Melayu tradisional laki-laki terdiri dari songkok, kemeja, celana yang cocok, dan bungkus pinggang yang disebut baju melayu. Dalam sebuah Dewan Undangan Negeri atau di Dewan Rakyat, seorang anggota diharuskan memakai songkok untuk mematuhi aturan berpakaian majelis.

Di Singapura, songkok tidak diperbolehkan untuk dikenakan di sekolah-sekolah negeri sebagai bagian dari seragam karena Singapura secara resmi adalah negara sekuler dan semua tutup kepala agama tidak diperbolehkan dikenakan. Ini adalah bagian dari seragam standar di madrasah (Sekolah agama Islam).

Baca Juga : Jual Songkok  Untuk Outfit Busana Muslim Anda

Related Posts

About The Author

Add Comment